Tampilkan postingan dengan label Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peternakan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Oktober 2008

Kekerdilan Akibat Stres Diawal Pemeliharaan

oleh ardhiborneogemilang

Ayam modern sekarang tampaknya memang lebih cengeng dan manja dibanding dengan ayam klasik yang dulu dipelihara secara tradisional. Penyebabnya tak lain karena temperatur, kelembaban dan kualitas udara yang baik sangat dibutuhkan untuk mengekspresikan potensi genetiknya.

Jika hal tersebut tidak dipenuhi, maka ayam modern akan mogok tumbuh atau bahkan mati. Dan ujung-ujungnya adalah urusan uang yaitu keuntungan atau kerugian peternak dalam usaha peternakannya. Demikian diungkapkan Drs Tony Unandar Private Poultry Farm Consultant dalam sebuah seminar teknis di Bogor, Selasa (18/12).

Menurut Tony, dalam urusan temperatur tubuh, ayam termasuk kategori hewan homeotermal alias berdarah panas. Tegasnya, temperatur tubuh relatif stabil dan berada dalam selang temperatur tertentu, tidak bergantung pada temperatur lingkungannya seperti hewan berdarah dingin.

Akan tetapi, dalam hirarki hewan bertulang belakang (vertebrata), ayam termasuk dalam kelas Aves (bangsa burung) yang merupakan kelas peralihan antara hewan berdarah dingin (poikilotermal) dengan hewan homeotermal. Itulah sebabnya pada ayam muda (umur dibawah 3 minggu) dikenal masa brooding (masa indukan), dimana pada masa ini kemampuan adaptasinya terhadap temperatur lingkungan masih rendah dan perkembangan lanjut sistem termoregulatornya masih terus terjadi.

Lebih lanjut, Tony Unandar menjelaskan bahwa pengaturan temperatur tubuh hewan homeotermal relatif kompleks dan merupakan sirkuit yang terdiri dari beberapa komponen. Menurut ahli, pengaturan temperatur tubuh ayam dilakukan oleh 4 komponen penting, yaitu bagian depan (anterior) hipotalamus, bagian pre-optik otak besar (cerebrum), tali syaraf otak kesepuluh (nervus vagus), dan tali-tali syaraf tepi yang sensitif terhadap temperatur (temperatur sensitive nerves).

Ayam umur sehari atau DOC belum dapat mengatur temperatur tubuhnya dengan baik. Mekanisme pengaturan temperatur tubuh yang dilakukan oleh sistem termoregulator baru terjadi secara optimal ketika ayam berumur 7-21 hari.



Dilain pihak, komponen termoregulator berupa tali-tali syaraf yang sensitif terhadap temperatur pada ayam muda sudah berfungsi dengan baik ketika ayam berumur sehari dan sebagian besar terletak di telapak kaki. Itulah sebabnya, walaupun komponen termoregulator lainnya (terutama komponen yang merupakan bagian dari otak besar) belum berkembang dengan baik, telapak kaki merupakan organ sensori yang paling penting pada saat DOC berinteraksi pertama kali dengan lingkungannya.

Waspada Litter yang Dingin

Reignier dan Kelley pada tahun 1981 melaporkan pertama kali fenomena renyatan temperatur (temperature shock) pada DOC. Kondisi ini bisa terjadi jika seekor DOC diletakkan pada permukaan litter dengan temperatur rendah, khususnya pada temperatur di bawah 25oC. Itulah sebabnya, untuk menghindari terjadinya renyatan temperatur pada tahap awal pemeliharaan ayam, pemanas harus dinyalakan minimum satu jam sebelum DOC ditebar di atas litter dalam indukan buatan.

Tony Unandar mengutip hasil penelitian beberapa ahli menegaskan bahwa renyatan temperatur tidak bisa dianggap remeh karena menimbulkan beberapa mekanisme lanjut, yaitu meningkatnya kadar adenocorticotropic hormone (ACTH) yang merupakan suatu indikator terjadinya stres pada DOC yang mengalami renyatan temperatur.

Kadar ACTH yang lebih tinggi dari normal akan membawa dampak lanjut berupa terganggunya proses penyerapan sisa kuning telur. Ini berarti, penyerapan zat kebal induk dan komponen nutrisi lainnya yang terkandung dalam kuning telur jelas terhambat. Di lain pihak, kadar ACTH yang berlebihan juga akan memberikan efek lazy leucocytes syndrome, yaitu suatu kondisi dimana butir darah putih tidak memberikan respon yang optimal terhadap keberadaan benda asing alias patogen yangmenginvasi tubuh ayam bersangkutan.

Manifestasi lapangan dari kejadian-kejadian tersebut di atas adalah terganggunya pertumbuhan lanjut ayam dengan berbagai derajat keparahan seperti kekerdilan dan lambat tumbuh dan keseragaman yang jelek. Serta rentannya ayam terhadap serangan mikroorganisme dari lingkungannya, termasuk mikroorganisme yang terdapat dalam vaksin aktif (reaksi pasca vaksinasi akan berlebihan).

Selain itu renyatan temperatur juga ditunjukkan dengan adanya perubahan dalam tingkah laku (behavior) ayam yang sangat signifikan. Dalam keadaan kondisi normal, di mana temperatur permukaan litter sesuai dengan yang diinginkan oleh DOC yaitu sekitar 29-31 oC, maka dalam tempo kurang dari 15 detik setelah ditebar, DOC akan melakukan aktivitas biologis lanjutan, misalnya melakukan pergerakan (movement), minum dan makan.

Jika terjadi renyatan temperatur maka DOC akan malas bergerak, minum dan makan. Ini berarti, gangguan pertumbuhan dan kematian ayam dengan berbagai derajat keparahan akibat dehidrasi dan hipoglisemia dengan mudah terjadi pada fase lanjutnya.

Stres Bisa Lewat Air Minum

Sementara itu, menurut Pattison (1997), renyatan temperatur dapat juga terjadi akibat DOC mengkonsumsi air minum dengan tempertaur yang rendah (<20 oC). Air minum dengan temperatur rendah dapat menurunkan temperatur tubuh ayam secara mendadak. Dilaporkan pula, DOC cenderung menolak untuk minum jika suhu air minum dibawah 15 oC.

Peneliti lain mengungkapkan bahwa pemberian air minum hangat menstimulasi peningkatan gerakan peristaltik usus dari dibawah 5 kali per menit menjadi 12-15 kali per menit. Meningkatnya gerakan peristaltik ini akan juga menstimulasi perkembangan alat-alat pencernaan yang sangat diperlukan mencerna makanan.

Jika gerakan peristaltik usus tidka optimal, maka DOC akan mengalami kesulitan pada saat defekasi (buang kotoran) berupa terjadinya perlengketan kotoran pada kloaka (cloacal pasting).

Selain menstimulasi perkembangan alat-alat pencernaan air minum yang hangat juga menstimulasi perkembangan hiperplasia alat pertahanan tubuh. Serta memperbaiki penyerapan sisa kuning telur yang berarti penyerapan zat kebal induk juga akan berlangsung dengan baik.

Diakhir presentasinya Drs Tony Unandar menyimpulkan bahwa ketebalan litter sebaiknya tidak boleh kurang dari 8 cm dan pemanas sudah harus dinyalakan setidaknya 2 jam sebelum ayam datang agar suhu permukaan litter sesuai dengan kenyamanan ayam yaitu 29-31 oC. Sementara air minum yang diberikan sebaiknya bersuhu 24-25 oC atau bahkan lebih baik jika dimasak terlebih dahulu untuk mematikan bakteri patogen. Air minum yang hangat menstimulasi gerakan peristaltik usus. Gerakan peristaltik usus yang semakin cepat membuat ayam semakin cepat lapar dan ingin makan. Persiapan brooding yang baik akan mencegah stres dini di fase pemeliharaan awal yang mencegah dampak buruk difase pertumbuhan berikutnya. Gagalnya pertumbuhan di fase awal tidak bisa dikompensasi di fase pertumbuhan berikutnya.

Sistem Reproduksi Ayam Jantan

Sistem reproduksi pada ayam jantan berbeda dengan ayam betina.

Alat reproduksi ayam jantan dibagi dalam tiga bagian utama, yaitu sepasang testis, sepasang saluran deferens, dan kloaka.

Testis
Testis ayam jantan terletak di rongga badan dekat tulang belakang, melekat pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum mesorchium, berdekatan dengan aorta dan vena cavar, atau di belakang paru-paru bagian depan dari ginjal. Meskipun dekat dengan rongga udara, temperatur testis selalu 41o - 43o C karena spermatogenesis (pembentukan sperma) akan terjadi pada temperatur tersebut.

Testis ayam berbentuk biji buah buncis dengan warna putih krem. Testis terbungkus oleh dua lapisan tipis transparan, lapisan albugin yang lunak. Bagian dalam dari testid terdiri atas tubuli seminiferi (85% - 95% dari volume testis), yang merupakan tempat terjadinya spermatogenesis, dan jaringan intertitial yang terdiri atas sel glanduler (sel Leydig) tempat disekresikannya hormon steroid, androgen, dan testosteron. Besarnya testis tergantung pada umur, strain, musim, dan pakan.

2. Saluran Deferens

Saluran deferens dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian atas yang merupakan muara sperma dari testis, serta bagian bawah yang merupakan perpanjangan dari saluran epididimis dan dinamakan saluran deferens.

Saluran deferens ini akhirnya bermuara di kloaka pada daerah proktodeum yang berseberangan dengan urodium dan koprodeum. Di dalam saluran deferens, sperma mengalami pemasakan dan penyimpanan sebelum diejakulasikan. Pemasakan dan penyimpanan sperma terjadi pada 65% bagian distal saluran deferens.

3. Alat Kopulasi

Alat kopulasi pada ayam berupa papila (penis) yang mengalami rudimenter, kecuali pada itik berbentuk spiral yang panjangnya 12-18 cm. Pada papila ini juga diproduksi cairan transparan yang bercampur dengan sperma saat terjadinya kopulasi.


++ Mekanisme Spermatogenesis ++

Spermatogenesis adalah proses pembentukan sel sperma yang terjadi di epitelium (tubuli) seminiferi di bawh kontrol hormon gonadotropin dan hipofisis (pituitaria bagian depan). Tubuli seminiferi ini terdiri atas sel sertoli dan sel germinalis. Spermatogenesis terjadi dalam tiga fase, yaitu fase spermatogenial, fase meiosis, dan fase spermiogenesis yang membutuhkan waktu 13 - 14 hari.

Sistem Reproduksi Ayam Betina

Ovarium dan oviduk. Ovarium adalah tempat sintesis hormon steroid seksual, gametogenesis, dan perkembangan serta pemasakan kuning telur (folikel). Oviduk adalah tempat menerima kuning telur masak, sekresi putih telur, dan pembentukan kerabang telur. Pada unggas umumnya dan pada ayam khususnya, hanya ovarium kiri yang berkembang dan berfungsi, sedangkan yang bagian kanan mengalami rudimenter.

Ovarium. Ovarium pada unggas dinamakan juga folikel. Bentuk ovarium seperti buah anggur dan terletak pada rongga perut berdekatan dengan ginjal kiri dan bergantung pada ligamentum meso-ovarium. Besar ovarium pada saat ayam menetas 0,3 g kemudian mencapai panjang 1,5 cm pada ayam betina umur 12 minggu dan mempunyai berat 60 g pada tiga minggu sebelum dewasa kelamin.

Ovarium terbagi dalam dua bagian, yaitu cortex pada bagian luar dan medulla pada bagian dalam. Cortex mengandung folikel dan pada folikel terdapat sel-sel telur. Jumlah sel telur dapat mencapai lebih dari 12.000 buah. Namun, sel telur yang mampu masak hanya beberapa buah saja (pada ayam dara dapat mencapai jutaan buah).

Folikel akan masak pada 9-10 hari sebelum ovulasi. Karena pengaruh karotenoid pakan ataupun karotenoid yang tersimpan di tubuh ayam yang tidak homogen maka penimbunan materi penyusun folikel menjadikan lapisan konsentris tidak seragam. Proses pembentukan ovum dinamakan vitelogeni (vitelogenesis), yang merupakan sintesis asam lemak di hati yang dikontrol oleh hormon estrogen, kemudian oleh darah diakumulasikan di ovarium sebagai volikel atau ovum yang dinamakan yolk (kuning telur).

Dikenal tiga fase perkembangan yolk, yaitu fase cepat antara 4-7 hari sebelum ovulasi dan fase lambat pada 10-8 hari sebelum ovulasi, serta pada 1-2 hari sebelum ovulasi. Akibat perkembangan cepat tersebut maka akan terbentuk gambaran konsentris pada kuning telur. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kadar xantofil dan karotenoid pada pakan yang dibelah oleh latebra yang menghubungkan antara inti yolk dan diskus germinalis.

Folikel dikelilingi oleh pembuluh darah, kecuali pada bagian stigma. Apabila ovum masak, stigma akan robek sehingga terjadi ovulasi. Robeknya stigma ini dikontrol oleh hormon LH. Melalui pembuluh darah ini, ovarium mendapat suplai makanan dari aorta dorsalis. Material kimiawi yang diangkut melalui sistem vaskularisasi ke dalam ovarium harus melalui beberapa lapisan, antara lain theca layer yang merupakan lapisan terluar yang bersifat permeabel sehingga memungkinkan cairan plasma dalam menembus ke jaringan di sekelilingnya. Lapisan kedua berupa lamina basalis yang berfungsi sebagai filter untuk menyaring komponen cairan plasma yang lebih besar. Lapisan ketiga sebelum sampai pada oocyte adalah lapisan perivitellin yang berupa material protein bersifat fibrous (berongga).

Dalam membran plasma, oocyte (calon folikel) berikatan dengan sejumlah reseptor yang akan membentuk endocitic sehingga terbentuklah material penyusun kuning telur. Sehingga besar penyusutan kuning telur adalah material granuler berupa high density lipoprotein (HDL) dan lipovitelin. Senyawa ini dengan ion kuat dan pH tinggi akan membentuk kompleks fosfoprotein, fosvitin, ion kalsium, dan ion besi. Senyawa-senyawa ini membentuk vitelogenin, yaitu prekursor protein yang disintesis di dalam hati sebagai respon terhadap estradiol.

Komponen vitelogenin lebih mudah larut dalam darah dalam bentuk kompleks lipida kalsium dan besi. Oleh adanya reseptor pada oocyte, akan terbentuk material kuning telur. proses pembentukan vitelogenin ini dinamakan vitelogenesis.

Penyusun utama kuning telur adalah air, lipoprotein, protein, mineral, dan pigmen. Protein kuning telur diklasifikasikan menjadi dua kategori:

Livetin, yakni protein plasmatik yang terakumulasi pada kuning telur dan disintesis di hati hampir 60% dari total kuning telur.
Phosvitin dan lipoprptein yang terdiri dari high density lipoprotein (HDL) dan low density lipoprotein (LDL) yang disebut pula dengan granuler dan keduanya disintesis dalam hati. Pada ayam dewasa bertelur setiap hari disintesis 2,5 g protein/hari melalui hati. Sintesis ini dikontrol oleh hormon estrogen. Hasil sintesis bersama-sama dengan ion kalsium, besi dan zinc membentuk molekul kompleks yang mudah larut kemudian masuk ke dalam kuning telur.
Adapun urutan perjalanan terbentuknya sebutir telur pada saluran reproduksi ayam betina adalah sebagai berikut:

a. Infundibulum/papilon : panjang 9 cm fungsi untuk menangkap ovum yang masak. Bagian ini sangat tipis dan mensekresikan sumber protein yang mengelilingi membran vitelina. Kuning telur berada di bagian ini berkisar 15-30 menit. Pembatasan antara infundibulum dan magnum dinamakan sarang spermatozoa sebelum terjadi pembuahan.

b. Magnum : bagian yang terpanjang dari oviduk (33cm). Magnum tersusun dari glandula tubiler yang sangat sensibel. Sintesis dan sekresi putih telur terjadi disini. Mukosa dan magnum tersusun dari sel gobelet. Sel gobelet mensekresikan putih telur kental dan cair. Kuning telur berada di magnum untuk dibungkus dengan putih telur selama 3,5 jam.

c.Isthmus: mensekresikan membran atau selaput telur. Panjang saluran isthmus adalah 10 cm dan telur berada di sini berkisar 1 jam 15 menit sampai 1,5 jam. Isthmus bagian depan yang berdekatan dengan magnum berwarna putih, sedangkan 4 cm terakhir dari isthmus mengandung banyak pembuluh darah sehingga memberikan warna merah.

d. Uterus : disebut juga glandula kerabang telur, panjangnya 10 cm. Pada bagian ini terjadi dua fenomena, yaitu dehidrasi putih telur atau /plumping/ kemudian terbentuk kerabang (cangkang) telur. Warna kerabang telur yang terdiri atas sel phorphirin akan terbentuk di bagian ini pada akhir mineralisasi kerabang telur. Lama mineralisasi antara 20 - 21 jam.

e. Vagina: bagian ini hampir tidak ada sekresi di dalam pembentukan telur, kecuali pembentukan kutikula. Telur melewati vagina dengan cepat, yaitu sekitar tiga menit, kemudian dikeluarkan (/oviposition/) dan 30 menit setelah peneluran akan kembali terjadi ovulasi.

f. Kloaka: merupakan bagian paling ujung luar dari induk tempat dikeluarkannya telur. Total waktu untuk pembentukan sebutir telur adalah 25-26 jam. Ini salah satu penyebab mengapa ayam tidak mampu bertelur lebih dari satu butir/hari. Di samping itu, saluran reproduksi ayam betina bersifat tunggal. Artinya, hanya oviduk bagian kiri yang mampu berkembang. Padahal, ketika ada benda asing seperti /yolk/ (kuning telur) dan segumpal darah, ovulasi tidak dapat terjadi. Proses pengeluaran telur diatur oleh hormon oksitosin dari pituitaria bagian belakang.

Oleh : adioranye
Sumber : Tri Yuwanta, 2004, Dasar Ternak Unggas, Kanisius, Yogyakarta

Probiotik Pengganti Antibiotik dalam Pakan Ternak

by. Samadi
Dimuat di rubrik Opini, koran Kompas, 13 September 2002

Tingginya kewaspadaan konsumen terutama di negara-negara maju akan makanan yang dikonsumsi terutama makanan yang berasal dari produk hewani mengilhami para nutritionist menciptakan makanan ternak yang tidak hanya mencukupi kebutuhan nutrisi (energi, asam amino, vitamin, dan mineral) bagi tenak itu sendiri tetapi juga keamanan bagi konsumen terhadap makanan yang dikonsumsi (daging, telur, dan susu).

Penggunaan antibiotik atau antimikrobial sebagai bahan aditif dalam pakan ternak telah berlangsung lebih dari 40 tahun. Senyawa antibiotik tersebut digunakan sebagai growth promotor dalam jumlah yang relatif kecil namun dapat meningkatkan efisiensi pakan (feed efficiency) dan reproduksi ternak sehingga dengan penggunaan bahan aditif tersebut peternak dapat memperoleh keuntungan lebih. Namun, akhir-akhir ini penggunaan senyawa antibiotik mengalami penurunan dan bahkan di beberapa negara telah melarang penggunaan antibiotik sebagai bahan aditif dalam pakan ternak, hal ini disebabkan karena dua faktor utama. Pertama, kemungkinan hadirnya residu dari antibiotik yang akan menjadi racun bagi konsumen, di samping itu antibiotik dapat menciptakan mikro-organisme yang resisten dalam tubuh manusia atau ternak (terutama bakteri-bakteri pathogen seperti Salmonella, E. coli dan Clostidium perfrinens). Dilaporkan penggunaan antibiotik pada pakan ternak unggas di North Carolina (Amerika Serikat) mengakibatkan resistensi ternak terhadap Enrofloxacin, merupakan salah satu antibiotik yang direkomendasikan untuk membasmi bakteri Escherichia coli.

Makanan fungsional
Sebagai pengganti antibiotik nutritionist merekomendasikan peternak menggunakan probiotik sebagai bahan aditif. Probiotik tergolong dalam makanan fungsional, di mana bahan makanan ini mengandung komponen-komponen yang dapat meningkatkan kesehatan ternak dengan cara memanipulasi komposisi bakteri yang ada dalam saluran pencernaan ternak. Berbeda dengan antibiotik, probiotik merupakan mikro-organisme yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan ternak tanpa mengakibatkan terjadinya proses penyerapan komponen probiotik dalam tubuh ternak, sehingga tidak terdapat residu dan tidak terjadinya mutasi pada ternak. Sementara antibiotik merupakan senyawa kimia murni yang mengalami proses penyerapan dalam saluran pencernaan. Di samping probiotik juga terdapat prebiotik. Prebiotik merupakan bahan pakan berupa serat {B(2-1) D fructans} yang tidak dapat dicerna oleh ternak berperut tunggal (monogastric seperti ayam atau babi). Serat tersebut dapat menjadi pemicu untuk peningkatan bakteri yang menguntungkan bagi ternak seperti Lactobacillus dan Bifidobacteria. Sebagai perbandingan organisme yang mengonsumsi karbohidrat bukan berupa serat seperti sukrosa atau pati komposisi bakteria pada saluran pencernaan didominasi oleh bakteri Bacteriodes (72 persen) sementara pemberian makanan berupa serat seperti oligofruktosa atau inulin meningkatkan komposisi Bifidobacteria sampai 81 persen.

Istilah probiotik pertama sekali diperkenalkan oleh Perker (1974) menggambarkan tentang keseimbangan mikro-organisme dalam saluran pencernaan. Pada saat ternak mengalami stres, keseimbangan mikro-organisme dalam saluran pencernaan terganggu, mengakibatkan sistem pertahanan tubuh menurun dan bakteri-bakteri pathogen berkembang dengan cepat. Pemberian probiotik dapat menjaga keseimbangan komposisi mikro-organisme dalam sistem pencernaan ternak berakibat meningkatnya daya cerna bahan pakan dan menjaga kesehatan ternak.

Sebagian besar probiotik yang digunakan sebagai aditif adalah tergolong bakteri termasuk dalam species Lactobacillus (L acidophilus, L lactis, L plantarum) dan Bifidobacterium (B bifidum, B thermophilum), di samping itu terdapat juga bakteri Streptococcus lactis dan jenis fungi seperti Aspergilus niger, Aspergilus oryzue. Manfaat probiotik sebagai bahan aditif ditunjukkan dengan meningkatnya ketersediaan lemak dan protein bagi ternak, di samping itu probiotik juga meningkatkan kandungan vitamin B kompleks melalui fermentasi makanan. Probiotik juga dapat meningkatkan kekebalan (immunity), mencegah alergi makanan dan kanker (colon cancer). Hasil penelitian menunjukkan insiden kanker lambung pada ternak yang diberikan probiotik (Lactobacillus GG) berpengaruh nyata terhadap ternak yang tidak diberikan probiotik. Di mana ternak yang diteliti terlebih dahulu diinjeksi dengan dimethylhydrazine (penyebab kanker).

Metchnikoff (1907) warga negara berkebangsaan Rusia memenangkan hadiah Nobel menarik dunia berkat penemuannya tentang kesehatan makhluk hidup berkaitan dengan mikro-organisme yang terdapat pada saluran pencernaan. Metchnikoff menyatakan bahwa mikro-organisme yang terdapat pada saluran pencernaan terdiri dari dua jenis, ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan. Pemberian yoghurt yang mengandung Lactobasillus bulgaricus (bakteri yang menguntungkan) meningkatkan kesehatan dan harapan hidup seperti terjadi pada penduduk Balkan. Prinsip kerja dari probiotik; bakteri-bakteri probiotik (lactobacillus dan Bifidobacterium) bekerja secara anaerob menghasilkan asam laktat mengakibatkan turunnya pH saluran pencernaan yang menghalangi perkembangan dan pertumbuhan bakteri-bakteri pathogen. Berbeda dengan bakteri pathogen (Escherichia coli) yang mendiami daerah dinding pencernaan untuk mengembangkan penyakit, bakteri-bakteri probiotik mendiami mukosa pencernaan yang juga berakibat perubahan komposisi dari bakteri yang terdapat dalam saluran pencernaan.

Pengaruh probiotik
Penelitian yang berkaitan dengan pemberian probiotik terhadap pakan ternak telah banyak dilakukan. Pemberian Lactobacillus acidophilus pada pakan ternak meningkatkan pertambahan berat badan sapi dan efesiensi makanan, sementara tingkat kematian ternak sapi menurun dari 7,5 persen menjadi 1,5 persen akibat pemberian probiotik. Pada ternak ayam pemberian Lactobacillus meningkatkan pertambahan berat badan 491,3 g/hari dibandingkan dengan kontrol 459,6 g/ hari. Namun, penelitian pada babi pengaruh probiotik baru jelas terlihat apabila ternak tersebut berada dalam kondisi stres, sementara keadaan normal tidak terdapat pengaruh nyata.

Di samping bakteri, fungsi juga digunakan sebagai probiotik. Saccharomyces cerevisiea dan Aspergillus oryzae merupakan jenis fungi yang banyak digunakan dalam pakan ternak. Saccharomyces cerevisiea mempunyai karakteristik khusus dalam pakan ternak karena kemampuannya memproduksi asam glutamat yang dapat meningkatkan palatability dari pakan tersebut. Berbeda dengan bakteri, fungsi merupakan mikro-organisme yang mempunyai tingkat resisten yang tinggi dan dapat hidup pada kondisi yang kurang menguntungkan, di samping itu juga fungsi mudah dikembang biakkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Aspergillus niger meningkatkan berat badan 5,9 persen dan meningkatkan efisiensi pakan 0,8 persen. Peningkatan penampilan ternak akibat pemberian Aspergillus niger disebabkan oleh meningkatnya asam lemak terbang (volatile fatty acids) seperti asam asetat, asam butirat, dan asam propionat yang merupakan sumber energi bagi ternak terutama ternak ruminansia (sapi, kerbau, atau kambing). Juga dilaporkan bahwa pemberian Saccharomyces cerevisie dapat meningkatkan daya cerna protein dan serat seperti selulosa dan hemiselulosa. Transpor ternak dari satu tempat ke tempat lainnya dapat mengakibatkan ternak menjadi stres, penambahan fungsi pada pakan ternak selama masa perpindahan ternak dapat menjadi salah satu pemecahan masalahan.

Di samping probiotik, saat ini banyak dikembangkan berbagai jenis bahan aditif yang berasal dari produk mikro-organisme seperti enzim (proteinase, amilase, selulase, xylanase, pectinase, dan lain sebagainya) yang diberikan kepada ternak. Di berbagai negara akhir-akhir ini penelitian yang berkaitan dengan salah satu mikro-organisme yang memproduksi enzim phytase sedang gencar-gencarnya dilakukan. Enzim phytase sangat bermanfaat karena kemampuan enzim tersebut mengubah fosfor yang terdapat pada biji-bijian (jagung, padi, gandum, kacang kedelai, dan lain-lain) dalam bentuk tidak tersedia menjadi bentuk tersedia dan dapat diserap oleh ternak. Tanpa adanya phytase bagian besar pospor yang terdapat pada biji-bijian dikeluarkan melalui faeces, pada akhirnya dapat mencemari lingkungan melalui proses Eutropication (pengurangan air yang bermanfaat oleh organisme karena meningkatnya alga atau tanaman pengganggu dan berakibat rendahnya kandungan oksigen sebagai proses dekomposisi dari bahan alga tersebut).

Peluang bisnis industri pakan
Begitu besarnya manfaat penggunaan mikro-organisme sebagai bahan aditif pakan ternak, pada saat ini industri pakan di berbagai negara sedang mengembangkan teknik pembudidayaan jenis-jenis bakteri, jamur, dan protozoa, yang dikemas dalam bentuk pakan ternak untuk diperjualbelikan. Akhir-akhir ini negara-negara Eropa Barat sedang giat-giatnya memberantas pemakaian bahan-bahan antibiotik dan hormon sebagai pemicu produksi ternak, diharapkan pada tahun 2012 semua produksi ternak di Eropa barat bebas dari bahan kimia tersebut, sementara Jerman mencanangkan lebih dahulu (2006), produksi ternak dan pertanian bebas dari pemakaian bahan-bahan kimia (Ökologische produkte).
Industri pakan di berbagai negara seperti Jerman, Amerika Serikat, dan Australia telah bekerja sama dengan institut dan universitas untuk melakukan penelitian sebelum produknya dilemparkan ke pasar. Penelitian tersebut berkaitan dengan keoptimalan dosis dan keefektifan bahan tersebut terhadap produksi ternak. Protexin, K-99 Lacto, ProViva, BioGaia, Bio-Plus adalah contoh-contoh produk probiotik yang telah dipasarkan. Bagaimana dengan industri pakan Indonesia?

Samadi staf pengajar Fakultas Pertanian Prodi Peternakan Universitas Syiah Kuala, Darussalam-Banda Aceh

Pencernaan Unggas

Pencernaan adalah penguraian bahan makanan ke dalam zat-zat makanan dalam saluran pencernaan untuk dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh. Pada pencernaan tersangkut suatu seri proses mekanis dan khemis dan dipengaruhi oleh banyak faktor.

Unggas mengambil makanannya dengan paruh dan kemudian terus ditelan. Makanan tersebut disimpan dalam tembolok untuk dilunakkan dan dicampur dengan getah pencernaan proventrikulus dan kemudian digiling dalam empedal. Tidak ada enzim pencernaan yang dikeluarkan oleh empedal unggas. Fungsi utama alat tersebut adalah untuk memperkecil ukuran partikel-partikel makanan.


Dari empedal makanan yang bergerak melalui lekukan usus yang disebut duodenum, yang secara anatomis sejajar dengan pankreas. Pankreas tersebut mempunyai fungsi penting dalam pencernaan unggas seperti hanya pada spesies-spesies lainnya. Alat tersebut menghasilkan getah pankreas dalam jumlah banyak yang mengandung enzim-enzim amilolitik, lipolitik dan proteolitik. Enzim-enzim tersebut berturut-turut menghidrolisa pati, lemak, proteosa dan pepton. Empedu hati yang mengandung amilase, memasuki pula duodenum.

Bahan makanan bergerak melalui usus halus yang dindingnya mengeluarkan getah usus. Getah usus tersebut mengandung erepsin dan beberapa enzim yang memecah gula. Erepsin menyempurnakan pencernaan protein, dan menghasilkan asam-asam amino, enzim yang memecah gula mengubah disakharida ke dalam gula-gula sederhana (monosakharida) yang kemudian dapat diasimilasi tubuh. Penyerapan dilaksanakan melalui villi usus halus.

Unggas tidak mengeluarkan urine cair. Urine pada unggas mengalir kedalam kloaka dan dikeluarkan bersama-sama feses. Warna putih yang terdapat dalam kotoran ayam sebagian besar adalah asam urat, sedangkan nitrogen urine mammalia kebanyakan adalah urine. Saluran pencernaan yang relatif pendek pada unggas digambarkan pada proses pencernaan yang cepat (lebih kurang empat jam).

Pencernaan Karbohidrat

Setelah makanan yang dihaluskan melalui empedal ke lengkukan duodenal maka getah pankreatik dikeluarkan dari pankreas ke dalam lekukan duodenal. Pada waktu yang bersamaan, garam empedu alkalis yang dihasilkan dalam hati dan disimpan dalam kantong empedu dikeluarkan pula kedalam lekukan duodenal. Garam empedu menetralisir keasaman isi usus di daerah tersebut dan menghasilkan keadaan yang alkalis. Tiga macam enzim pencernaan dikeluarkan ke dalam getah pankreas. Salah satu diantaranya adalah amilase yang memecah pati kedalam disakharida dan gula-gula kompleks. Apabila makanan melalui usus kecil maka sukrase dan enzim-enzim yang memecah gula lainnya yang dikeluarkan di daerah ini selanjutnya menghidrolisir atau mencerna senyawa-senyawa gula ke dalam gula-gula sederhana, terutama glukosa. Gula-gula sederhana adalah hasil akhir dari pencernaan karbohidrat.

Pati dan gula mudah dicerna oleh unggas sedangkan pentosan dan serat kasar sulit dicerna. Saluran pencernaan pada unggas adalah sedemikian pendeknya dan perjalanan makanan yang melalui saluran tersebut begitu cepatnya sehingga jasad renik mempunyai waktu sedikit untuk mengerjakan karbohidrat yang kompleks.

Pencernaan Lemak

Garam-garam empedu hati mengemulsikan lemak dalam lekukan duodenal. Lemak berbentuk emulsi tersebut kemudian dipecah ke dalam asam lemak dan giserol oleh enzim lipase, suatu hasil getah pankreas. Zat-zat tersebut merupakan hasil akhir pencernaan lemak.

Pencernaan Protein

Pada waktu bahan makanan dihaluskan dan dicampur di dalam empedal, campuran pepsin hidrokhlorik memecah sebagian protein ke dalam bagian-bagian yang lebih sederhana seperti proteosa dan pepton. Pada saat lemak dan karbohidrat dicerna dalam lekukan duodenal maka tripsin getah pankreas memecah sebagian proteosa dan pepton ke dalam hasil-hasil yang lebih sederhana, yaitu asam-asam amino. Erepsin yang dikeluarkan ke dalam usus halus melengkapi pencernaan hasil pemecahan protein ke dalam asam-asam amino. Zat-zat tersebut merupakan hasil akhir pencernaan protein.

Pencernaan Zat-zat Mineral dan Vitamin

Zat-zat mineral dalam saluran pencernaan dilarutkan, bukan dicerna. Sebagian besar zat mineral tersebut berubah dari bentuk padat ke bentuk cair di dalam empedal. Kulit kerang dan grit misalnya dilarutkan di bagian tersebut.

Pencernaan dan metabolisme vitamin dalam tubuh belum banyak dapat diketahui. Karoten, "prekursor" vitamin A, dirubah ke dalam vitamin A dalam tubuhnya dapat membantu vitamin C dari bagian-bagian makanan yang ditelan, Kholesterol dalam tubuh dirubah ke dalam vitamin D karena penyinaran sinar matahari atau sinar ultraviolet.

Penyerapan dan Assimilasi

Zat-zat makanan yang dicerna masuk melalui dinding-dinding usus ke dalam peredaran darah. Sebagian besar penyarapan sangat dipertinggi dengan adanya villi yang tidak terhitung jumlahnya.

Zat-zat makanan yang tercerna dalam bentuk gula sederhana, asam-asam amino dan zat-zat mineral yang larut, masuk melalui permukaan dinding usus kedalam kapiler-kapiler darah. Cara bagaimana zat-zat tersebut masuk melalui dinding usus belum banyak diketahui.

Lemak yang dicerna masuk melalui dinding usus ke dalam cairan yang menyerupai susu sistema limfatik. Di sini zat-zat tersebut membentuk lemak netral. Lemak dalam limfa lebih banyak merupakan lemak tubuh daripada sebagai lemak yang diperoleh dari bahan makanan. Lemak bergerak bersama-sama limfa dan memasuki aliran darah vena dekat jantung.

Pengangkutan Zat-zat Makanan

Zat-zat makanan yang telah dicerna setelah masuk ke peredaran darah melalui kapiler-kapiler dalam dinding usus dikumpulkan di dalam vena porta. Vena porta tersebut mengangkut darah dan zat-zat makanan yang telah diserap ke hati dalam perjalanannya ke jantung.

Setelah makanan yang dicerna masuk melalui kapiler-kapiler hati, sebagian besar glukosa dirubah kedalam glikogen untuk disimpan di dalam hati dan otot. Sebagian asam-asam amini dan hasil-hasil zat yang mengandung nitrogen dan metabolisme jaringan mengalami deaminasi pada waktu zat-zat tersebut melalui hati. Bagian-bagian karbohidrat dapat digunakan untuk panas dan kegunaan-kegunaan energi dan bagian zat yang mengandung nitrogen diangkut ke ginjal untuk disingkirkan. Hati memindahkan pula sebagian lemak dan aliran darah untuk disimpan. Hal tersebut dapat dilihat pada hati yang berwarna pucat kekuning-kuningan dari ayam yang gemuk dan anak ayam yang baru menetas. Kotoran-kotoran yang terserap dan saluran pencernaan ke dalam peredaran darah diambil oleh sel-sel hati pada waktu darah masuk melalui kapiler-kapiler hati. Bila racun ikut terserap maka konsentrasi racun yang tinggi tersebut biasanya terdapat pada hati.

Darah yang membawa zat-zat makanan yang telah dicerna meninggalkan hati dengan perantaraan vena hepatika menuju ke jantung. Darah tersebut melanjutkan perjalanannya dari jantung ke paru-paru untuk melepaskan karbondioksida dan air dan mengambil oksigen. Darah kembali dari paru-paru ke jantung untuk kemudian dialirkan melalui arteri-arteri ke seluruh jaringan tubuh.

Zat-zat makanan yang telah dicerna mengalir ke kapiler-kapiler ke limfa yang membasahi sel-sel jaringan. Limfa berguna sebagai medium pertukaran antara kapiler-kapiler dan sel-sel jaringan. Limfa tersebut membawa makanan yang telah dicerna ke sel dan mengangkut sisa-sisa makanan dari sel.

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Dalam suatu peternakan ayam, dapat terjadi banyak sekali variasi penyakit yang sudah sangat dipahami atau familiar bagi peternak terutama peternak skala menengah dan besar.

Berbicara keberhasilan mengenai peternakan (tanpa tergantung skala bisnisnya) oleh seorang peternak ditentukan dari pengetahuan dan pemahaman dengan pengenalan sumber hambatan dan ancaman dari penyakit yang mungkin dapat menjadikan ledakan penyakit menular dan berakibat sangat merugikan. Oleh sebab itu, pengamanan dan menjauhkan ternak ayam dari sumber wabah dan hambatan potensial tersebut menjadi prioritas dan perhatian khusus.

Dimulai dengan pemilihan indukan yang unggul, pengelolaan yang baik, sanitasi, peningkatan daya tahan ayam dengan vaksinasi dan usaha menjauhkan ternak ayam dari sumber penyakit adalah kunci sukses dalam beternak ayam.

Secara prinsip penyakit ayam dapat disebabkan oleh 3 hal yaitu :

Penyakit yang menular dan disebabkan oleh bakteri, protozoa, virus, parasit dan jamur.

Penyakit yang disebabkan oleh faktor atau sebab lainnya.

Penyakit yang disebabkan oleh defisiensi atau kekurangan zat-zat makanan yang diperlukan dalam perkembangan dan ketahanan tubuh ayam yang lebih disebabkan karena ketergantungan ayam pada kualitas makanan yang diberikan oleh peternak

Berikut ini kami mencoba memberikan ringkasan beberapa penyakit yang sering dijumpai pada ayam, termasuk penyakit yang baru-baru ini sangat meresahkan para peternak yaitu Avian Influenza atau yang lebih dikenal dengan Flu Burung.

Fungsi Karbohidrat dalam Ransum Unggas

Karbohidrat adalah zat organik utama yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan biasanya mewakili 50 sampai 75 persen dari jumlah bahan kering dalam bahan makanan ternak. Karbohidrat sebagian besar terdapat dalam biji, buah dan akar tumbuhan. Zat tersebut terbentuk oleh proses fotosintesis, yang melibatkan kegiatan sinar matahari terhadap hijauan daun. Hijauan daun merupakan zat fotosintetik aktif pada tumbuh-tumbuhan. Zat tersebut merupakan molekul yang rumit dengan suatu struktur yang serupa dengan struktur hemoglobin, yang terdapat dalam darah hewan. Hijauan daun mengandung magnesium : hemoglobin mengandung besi. Lebih terperinci lagi, karbohidrat dibentuk dari air (H2O) berasal dari tanah, karbondioksida (CO2) berasal dari udara dan energi berasal dari matahari. Suatu reaksi kimiawi sederhana yang memperlihatkan suatu karbohidrat (glukosa) disintesis oleh fotosintesis dalam tumbuh-tumbuhan adalah sebagai berikut :

6CO2 + 6H2O + 673 cal —-> C6H12O6 + 6 O2

Monosakharida adalah gula-gula sederhana yang mengandung lima atau enam atom karbon dalam molekulnya. Zat tersebut larut dalam air. Monosakharida yang mengandung enam karbon mempunyai formula molekul C6H12O6. Termasuk di dalamnya glukosa (juga dikenal sebagai dekstrosa) terdapat pada tubuhan, buah masak, madu, jagung manis, dan sebagainya. Pada hewan zat tersebut terutama terdapat dalam darah yang pada konsentrasi tertentu adalah sangat vital untuk kehidupan. Orang sakit dapat diberi makan dengan menginfus glukosa langsung ke dalam peredaran darah.


Disakharida adalah karbohidrat yang mengandung dua molekul gula-gula sederhana. Mempunyai formula umum C12H22O11. Karenanya zat tersebut mewakili dua molekul gula sederhana minus air (dua atom hidrogen dan satu atom oksigen). Disakharida yang sangat penting adalah sukrosa, maltosa dan laktosa.

Sukrosa ditemukan dalam ubi manis atau gula tebu dan tiap molekul mengandung satu molekul glukosa (dekstrosa) dan satu molekul fruktosa (levulosa). Sukrosa rasanya sangat manis dan lazimnya digunakan untuk membuat manis bahan makanan, jadi merupakan gula yang digunakan sehari-hari dan digunakan untuk masak. Sukrosa terdapat pula dalam buah-buahan masak, dan getah pohon serta tersebar luas di alam.

Maltosa ditemukan dalam biji yang sedang tumbuh dan mengandung dua molekul glikosa. Gula tersebut manisnya kurang lebih sepertiga manisnya sukrosa.

Laktosa adalah gula susu dan hanya terdapat dalam susu (atau hasil-hasil dari susu). Zat tersebut terdiri dari satu molekul glukosa dan satu molekul galaktosa. Laktosa tidak dapat digunakan oleh ayam karena sekresi pencernaan ayam yang tidak mengandung enzim laktosa yang diperlukan untuk mencerna laktosa.

Trisakharida terdiri dari tiga molekul monosakharida yaitu galaktosa, fruktosa dan glukosa. Raffinosa adalah suatu trisakharida yang terdapat dalam gula biet dan biji kapas.

Polisakharida mempunyai formula kimiawi umum (C6H10O5)n. Berarti bahwa zat tersebut mengandung banyak molekul gula-gula sederhana. Kedua golongan utama dari polisakharida adalah pati dan selulosa, meskipun masih ada golongan-golongan lebih kecil lainnya yang kurang penting. Selulosa merupakan kelompok organik terbanyak di alam; hampir 50 persen zat organik dalam tumbuh-tumbuhan diduga terdiri dari selulosa. Meskipun selulosa dan pati kedua-duanya adalah polisakharida yang terdiri dari unit-unit glikogen, ayam hanya mempunyai enzim yang dapat menghidrolisa pati. Karenanya selulosa tidak dapat dicerna sama sekali. Selulosa terutama terdapat dalam dinding sel dan bagian tumbuh-tumbuhan yang berkayu. Hewan ruminansia (sapi, domba dan kambing) yang mempunyai mikroorganisme selulolitik dalam perut besarnya dapat menyerap selulosa dan membuat hasil-hasil akhirnya (asam lemak atsiri) berguna bagi hewan itu sendiri. Dalam proses pencernaan tersebut banyak energi telah hilang sehingga selulosa bagi hewan ruminansia mempunyai nilai gizi yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan pati yang mudah dicerna. Pada ayam, selulosa lebih banyak digunakan untuk membatasi penggunaan zat-zat makanan, terutama dalam pertumbuhan ayam dara. Dalam penyusunan ransum, selulosa diistilahkan dengan nama "serat kasar". Pati merupakan polisakharida terpenting dalam tumbuh-tumbuhan, karenanya merupakan zat paling penting dalam ransum ternak. Pada sebagian besar tumbuh-tumbuhan, pati disimpan didalam buah, biji dan akar. Bila pati dirombak, maka akan menghasilkan banyak molekul gukosa. Glikogen atau "pati hewan" terdapat dalam jumlah sedikit dalam hati, otot dan jaringan-jaringan lain dari tubuh hewan. Glokogen mengandung banyak molekul glukosa.

Fungsi Utama Karbohidrat dalam Ransum

Fungsi utama karbohidrat dalam ransum ayam adalah untuk memenuhi kebutuhan energi dan panas bagi semua proses-proses tubuh. Ayam adalah hewan yang aktif dalam pergerakannya dan mempunyai suhu badan tinggi (40,5 - 41,5oC). Karena suhu tersebut biasanya adalah lebih tinggi daripada udara sekelilingnya, maka tubuh ayam secara terus-menerus kehilangan panas. Oleh sebab itu ayam memerlukan bahan makanan yang mengandung energi dalam jumlah besar untuk mengganti panas yang hilang tersebut. Jagung, beras, sorghum, gandum dan hasil ikutan penggilingan, merupakan bahan makanan utama yang mengandung energi.

Bila ayam dalam ransumnya memperoleh karbohidrat terlalu banyak maka kelebihan tersebut oleh tubuh akan dirubah ke dalam lemak yang akan disimpan sebagai sumber energi potensial. Serat kasar (termasuk selulosa) merupakan sumber panas dan energi bila dicerna. Zat tersebut mencegah pula menggumpalnya makanan dalam lambung dan usus hewan dengan cara memberi pengaruh pencahar dan mempertahankan tenus otot yang wajar dalam saluran pencernaan.

Nilai Bermacam-macam Karbohidrat

Karbohidrat dalam bahan makanan berbeda besar sekali dalam pencernaan dan nilai gizi. Pati dan gula mudah dicerna dan mempunyai nilai gizi tinggi. Selulosa dan karbohidrat kompleks lainnya dicerna hanya melalui kegiatan bakteri yang terdapat di dalam perut besar hewan ruminansia, di dalam usus buntu dan usus besar kuda dan dalam jumlah yang lebih sedikit di dalam usus besar hewan lainnya. Hal ini berarti bahwa hewan ruminansia, seperti sapi dan domba dan juga kuda sanggup mencerna dan menggunakan serat kasar bahan pakan secara baik meskipun zat tersebut dibandingkan dengan pati mempunyai nilai yang lebih rendah bagi hewan-hewan tersebut. Ayam dan babi dapat sedikit menggunakan serat kasar.

Dalam proses pencernaan, maka pati dirubah ke dalam glukosa. Gula-gula campuran juga hampir seluruhnya dirubah ke dalam glukosa atau gula-gula sederhana lainnya dan kemudian diserap ke dalam darah. Pada pencernaan serat kasar dengan pertolongan bakteri, maka hasil utama yang dapat digunakan adalah asam-asam organik, sebagian besar asam asetat. Asam-asam organik tersebut kemudian diserap dan digunakan dalam tubuh sama halnya seperti glukosa.

Karena karbohidrat merupakan lebih kurang tiga-perempat bagian dari bahan kering sebagian besar tumbuh-tunbuhan, maka zat tersebut merupakan sumber utama energi dan panas bagi ayam. Sebagian besar energi guna pekerjaan otot jadinya berasal dari karbohidrat dalam bahan pakan. Telah diketahui pula bahwa karbohidrat merupakan sumber utama lemak tubuh dan merupakan sumber lemak penting dalam susu.

Manfaat Enzym Bagi Ayam

Januari 31, 2008 oleh ardhiborneogemilang

I. MANFAAT ENZYM BAGI AYAM

Ayam petelur merupakan jenis ternak unggas sebagai penghasil telur terpenting di Indonesia. Harga pakan yang sering melonjak secara tiba-tiba dan harga telur yang fluktuatif sangat mempengaruhi minat peternak dalam berproduksi. Untuk meningkatkan keuntungan peternak, perlu upaya untuk meningkatkan efisiensi usaha. Dalam usaha ayam, baik ayam ras maupun buras secara intensif, biaya pakan meliputi 65-70% dari biaya operasional, maka untuk meningkatkan efisiensi usaha, faktor pakan tidak bisa diabaikan, karena merupakan komponen biaya terbesar. Dalam usaha peternakan, efisiensi usaha dapat dilihat antara lain dari angka Feed Convertion Ratio (FCR). FCR merupakan perbandingan antara banyaknya pakan yang dikonsumsi dengan tingkat produksi (telur) yang dicapai. Untuk menekan angka FCR, dapat dilakukan dengan menekan konsumsi pakan, atau dengan meningkatkan angka produksi tanpa atau dengan sedikit peningkatan konsumsi pakan.
Penggunaan enzym dalam ransum merupakan alternatif care yang diharapkan dapat meningkatkan produksi ternak dan menekan nilai FCR. Enzym merupakan bahan organik yang dapat meningkatkan daya cerna pakan sehingga mampu meningkatkan produksi ternak.Penggunaan enzym dalam ransum terbukti dapat meningkatkan produksi telur, baik pada ayam ras maupun ayam buras, di pihak lain konsumsi pakan justru berkurang.


II. PENGGUNAAN PROMIX UNTUK AYAM PETELUR

Keunggulan PROBIOTIC PREMIX HERBAL (PROMIX) adalah menghasilkan enzym yang dapat mengurai selulosa, hemiselulosa, pectin dan lignin ► dilakukan oleh Biffidobacterium bifidum, Biffidobacterium logum dan Lactobacillus acidophilus, memecah serat kasar, mempercepat dekomposisi bahan organik sehingga menjadi karbohidrat yang siap cerna meningkatkan absorbsi jonjot usus sehingga meningkatkan penyerapan pakan (meningkatkan TDN » Total Digetible Nutrient) dan akhirnya menurunkan FCR (Feed Convertion Ratio).



Penggunaan PROMIX diberikan lewat pakan.
· Agar pemberian efektif pada ayam petelur lebih efektif hendaknya dilakukan setelah ayam melampaui puncak produksi. Pada ayam ras, misalnya dilakukan setelah produksi telur di bawah 80% dan pada ayam buras pada tingkat produksi di bawah 30%.
· Level penggunaannya yang efektif sebesar 0,1% dari jumlah ransum (1 kg untuk 1.000 kg ransum).
· Mengingat komposisi penggunaan PROMIX yang amat kecil sehingga dalam aplikasinya sulit untuk mencampur dengan ransum yang jumlahnya relatif besar. Agar bisa merata, dianjurkan pencampuran dilakukan secara bertahap.
· Tahap pertama, PROMIX dicampur secara merata dengan pakan sehingga volume campuran mencapai 10-20 kali dari volume PROMIX. Selanjutnya, campuran tersebut dicampur dengan seluruh ransum secara merata.



III. PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKSI DAN KONSUMSI PAKAN
· Pemberian PROMIX dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi usaha, karena pemberian enzym akan dapat meningkatkan produksi dan mengurangi konsumsi pakan.
·Hasil kajian menunjukkan bahwa pemberian PROMIX sebesar 0,1% pada ayam ras petelur dapat meningkatkan produksi dari rata-rata 79,8% menjadi 85,2%. Sedangkan
pada ayam buras meningkat dari rata-rata 19,0% menjadi 24,4%.
· Disamping itu, berat telur rata-rata meningkat dari 58,8 gram/butir menjadi
63,1 gram/butir pada ayam ras dan pada ayam buras meningkat dari 40,7
gram/butir menjadi 41,9 gram/butir.
· Selain peningkatan produksi telur juga terjadi penurunan konsumsi pakan.
Pada ayam ras dari 150 gram/ekor/hari menjadi 141 gram/ekor/hari dan
pada ayam buras dari 69 gram/ekor/hari menjadi 64 gram/ekor/hari.
· Dengan terjadinya peningkatan produksi di satu pihak dan penurunan
konsumsi pakan di pihak lain, sehingga pemberian PROMIX akan
meningkatkan keuntungan usaha.
IV. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN




Dalam menggunakan PROMIX untuk efisiensi pakan dan peningkatan produksi,
agar efektif pada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu:
1. Hindarkan enzym dari sinar matahari langsung karena itu simpanlah
PROMIX di tempat yang teduh (tidak terkena sinar matahari), tempat yang
kering dan lembab.
2. Dalam mencampur dengan pakan harus hati-hati agar benar-benar
merata. Karena itu pencampuran perlu dilakukan secara bertahap.
3. Pada ayam fase bertelur (layer) hendaknya pemberian dilakukan setelah
puncak produksi berlalu. Pada ayam ras, dengan tingkat produksi 80% ke
bawah dan pada ayam buras 30% ke bawah.



Ditulis dalam Manfaat Enzym | yang berkaitan ayam, probiotik, ternak, broiler, herbal, daging, layer, agrobisnis, bisnis, agro, agribisnis, peternakan, chick, enzim, enzym, usaha, peluang, telur, FCR, TDN, kandang, pupuk kandang, protein, karbohidrat, kalsium, nafsu, penyakit, produksi, produktifitas, konsumsi, jamu, ras, buras, mikroba, bakteri, dekomposisi, ransum, pakan | 2 Tanggapan

2 Tanggapan ke “Manfaat Enzym Bagi Ayam”
di/pada Juli 29, 2008 pada 2:35 pm1 ALVIN
PAK SAYA INI PELAJAR,TERUS PENGEN JADI PETERNAK,SAMPAI2 SAYA BELI AYAM PETELUR YTANG SUDAH TUA DI PASAR,SOALNYA MAU BELI YANG MASIH BARU LAHIR GAK PUNYA UANG,SAYA MAU TANYA BAGAI MANA PAKAN AGAR AYAM BISA BERETELUR SETIAP HARI/BANYAK.USAHAKAN PAKAN TIDAK BELI[BUAT SENDIRI] SOALNYA SAYA ORANG GAK PUNYA,BALAS YA PAK PLEASE



di/pada Agustus 1, 2008 pada 7:46 am2 ardhiborneogemilang
Mas Alvin di somehere,
Saya salut pada semangat Anda. Jangan berkecil hati dengan keadaan Anda sekarang. Segala hal di dunia ini bisa saja berubah asal Anda mau dan melakukannya,
Pakan adalah kunci keberhasilan budidaya terutama ayam. Kualitas pakan sangat menentukan, Kualitas yang dimaksud adalah ketersediaan semua unsur yang diperlukan dalam membangun struktur tubuh ayam sampai akhirnya siap untuk berproduksi.
Saya sekedar menjawab secara umum kali ini mengingat keterbatasan waktu saya. InsyaAllah segera saya layangkan jawaban komplit mengenai komposisi lengkap pakan ideal plus sumber bahannya tanpa harus mengeluarkan biaya banyak.
Atau Anda bisa SMS/telp saya di 081351868943.

Kamus Poultry

Albumen : Putih telur yang kaya akan protein yang dihasilkan oleh gobelet dalam magnum, di bawah kontrol hormon estrogen.

Appetit calcic spesific : Kalsium pakan yang didepositkan saat pertama kali terjadi vitelogeni dan saat pertama kali terjadi pembentukan kerabang telur.

Barbules : Pembentuk bulu.

Beard : Janggut atau pial ayam.

Breed (bangsa) : Klasifikasi ayam berdasarkan bentuk morfoligi dan besar tubuh yang sama dari setiap kelas, misalnya ayam Brahma.

Breeding farm : Industri pembibitan unggas, yaitu tempat untuk mengembangbiakkan unggas.

Broiler : Ayam penghasil daging yang dipelihara sampai umur 6 - 7 minggu dengan berat 1,5 - 2,0 kg dan konversi pakan 1,9 - 2,25.

Broodines (mengeram) : Usaha ayam untuk mengerami telur setelah bertelur, pada periode tertentu dan dibawah pengaruh hormon prolaktin.

Calbindin, Calcium Binding Protein (CaBP) : Ion kalsium pakan yang terkait dengan protein yang terabsorpsi di jonjot usus halus.

Class : Standar klasifikasi ayam berdasarkan daerah asal-usul geografis yang memberikan variasi perbedaan bentuk dan sifat karakteristik ayam, misalnya ayam Asia, ayam Amerika, dan sebagainya.

Cluth : Jumlah telur dalam setiap seri peneluran.

Comb : Jengger ayam

Coprodeum : Muara tempat keluarnya feses di kloaka ayam.

Creeper : Ayam yang mempunyai bentuk badan normal, tetapi kakinya pendek karena adanya gen C yang heterozigot.

Crest : Bentuk mahkota bulu kepala pada unggas.

Crop : Tembolok ayam tempat menyimpan pakan untuk sementara.

Ditjenak : Singkatan dari Direktorat Jendral Peternakan.

DOC (Day Old Chik) : Anak ayam umur sehari; ada juga yang menamakan “kuri” (=kutuk umur sehari). Selaras dengan istilah tersebut, juga berlaku untuk anak itik (Day Old Duck = DOD), anak puyuh (Day Old Coturnix = DOC), anak angsa (Day Old Geese = DOG).

Dual Purpose : Ayam tipe dwiguna yang mampu menghasilkan telur dan daging sama baiknya.

Efisiensi pakan : Besarnya bagian pakan yang dapat diubah menjadi produk (daging atau telur) yang dinyatakan dalam persen.

|Rumus| Efesiensi pakan broiler = (Kenaikan berat badan (g/ekor/hari) / Konsumsi pakan (g/ekor/hari) ) x 100% || Keterangan : efisiensi pakan semakin besar semakin baik, sedangkan konversi pakan semakin kecil semakin baik.

Ekskreta : Feses yang bercampur dengan urine pada unggas.

Feed Convertion Ratio (FCR) atau konversi pakan : Perbandingan antara jumlah pakan yang dihabiskan dan kenaikan berat badan pada periode waktu dan satuan berat yang sama (untuk ayam broiler). Konversi pakan pada ayam petelur adalah perbandingan jumlah pakan yang dihabiskan dengan produksi telur dikalikan massa telur (rata-rata berat telur).

| Rumus| Konversi pakan untuk ayam broiler = (Konsumsi pakan pada waktu dan berat yang sama / Kenaikan bobot badan pada waktu dan berat yang sama)

| Rumus| Konversi pakan untuk ayam petelur = (Konsumsi pakan pada waktu dan satuan berat sama / (HDA x Bobot telur pada waktu dan satuan berat sama))

Contoh konversi pakan untuk ayam broiler : Apabila berat broiler yang dipelihara sampai umur 6 minggu menghabiskan pakan 2,50 kg, sementara itu kenaikan berat badan (berat badan umur 6 minggu - berat DOC) selama 6 minggu adalah 1,25 kg, maka konversi pakan adalah 2,50 / 1,25 = 2,0

Feed mill : Pabrik pakan ternak.

Feed Intake (FI) atau konsumsi pakan : Jumlah pakan yang dihabiskan oleh ayam atau unggas pada periode waktu tertentu, misalnya konsumsi pakan setiap hari dihitung dengan satuan gram/ekor/hari.

Final stock : Ayam yang khusus dipelihara untuk menghasilkan telur atau daging yang telah melalui berbagai persilangan dan seleksi. Di antara ayam jantan atau betina final stock ini tidak boleh disilangkan karena keturunannya akan menghasilkan produksi 50% dari induknya.

Fondation stock (great grand parents stock) : Jenis ayam yang berasal dari persilangan dan seleksi dari berbagai kelas, bangsa, atau varietas yang dilakukan oleh pembibit dan merupakan bahan (stock) untuk membentuk GPS. Great grand parents ini dihasilkan dari persilangan galur murni (pure line).

Finisher : Periode pemeliharaan ayam broiler dan umur 3 - 7 minggu.

Flock mating : Perkawinan dari seekor ayam jantan dengan sekelompok ayam betina pada setiap flock.

Gain weight : Kenaikan berat badan pada periode waktu tertentu dengan cara mengurangi berat badan ayam pada akhir minggu dengan jumlah ayam dan jumlah hari sehingga diperoleh satuannya dalam gram/ekor/hari.

Grand parents stock (GPS) : Jenis ayam yang khusus dipelihara untuk menghasilkan parents stock (PS).

Gallus varius : Ayam hutan hijau jawa.

Gallus bankiva : Ayam hutan merah.

GAPUSI : Gabungan Penggemar Unggas Indonesia.

Gen dwarf : Gen ayam tipe ringan yang ditemukan Hutt (1949), diberi simbol dw.

Gen normal : Gen ayam tipe berat, diberi simbol DW.

Gizard atau empedal : Bagian saluran pencernaan mekanik unggas untuk melumatkan bolus sebelum diabsorbsi usus besar.

Grower : Periode pemeliharaan ayam petelur pada umur 6 - 12 minggu.

Galur murni (pure line) : Suatu breed atau varietas ayam yang telah mengalami seleksi dan pemurniaan berdasarkan sifat/karakteristik unggul tertentu yang akan digunakan untuk membentuk strain komersial melalui perkawinan atau persilangan.

Hen day average (HDA) : Persentase perbandingan antara jumlah produksi telur dan populasi ayam dalam satu kelompok pada satuan waktu tertentu. Contoh : hari ini jumlah ayam sebanyak 90 ekor dan bertelur 75 butir, berarti HDA = 75/90 x 100% = 83,33 %.

Hen house average (HHA) : Persentase perbandingan antara jumlah produksi telur dan jumlah ayam pada saat pertamakali ayam dimasukkan. Contoh : pada tanggal 1 Januari 1999 pak Bejo membeli ayam siap bertelur 100 ekor. Pada tanggal 10 Juni 1999, ayam dikandang tinggal 90 ekor (10 ekor mati). Produksi telur pada tanggal 10 Juni 1999 adalah 75 butir, sehingga HHA = 75/100 x 100% = 75%.

Hen fever : Ayam yang mempunyai gerakan lambat sehingga seperti ayam sakit, misalnya ayam Cochin.

High stock production : Ayam yang telah terseleksi dan produksi telur ataupun dagingnya tinggi.

Homeotermik : Suhu tubuh ayam yang selalu konstan 40 derajat Celcius - 41 derajat Celcius.

Hybrid commercial stock : Ayam yang telah diseleksi untuk dipasarkan secara komersial.

KINAK PRA : Kawasan Industri Peternakan Rakyat Agribisnis.

KINAK PIR : Kawasan Industri Peternakan Inti Rakyat.

KINAK SUPER : Kawasan Industri Sentra Usaha Peternakan Ekspor.

Karkas Unggas : Hasil pemotongan unggas (ayam) tanpa disertai bagian darah, bulu, kepala, cakar, usus, dan giblet (hati, jantung, dan empedal), tetapi paru-paru termasuk dalam bagian karkas.

Layer : Ayam penghasil telur yang dipelihara sampai umur 75 minggu (berproduksi dari umur 20 - 75 minggu).

Laying squence : Seri peneluran.

Legund : Ayam leher gundul (neck necked) yang membawa gen Na.

Meatness : Sifat dan kualitas daging pada ayam broiler yang terbentuk cukup baik.

Monophylitic origin : Teori asal usul ayam dari satu keturunan Gallus.

Molting : Peristiwa rontoknya bulu secara alamiah dan beraturan. Molting yang dipaksakan, dinamakan force molting atau induce molting, digunakan untuk mengatur produksi, harga telur, meningkatkan produksi, dan kualitas telur.

Ornamental : Ayam yang dipelihara untuk kesenangan.

Oviduk : Saluran reproduksi ayam betina yang terdiri atas infundibulum, magnum, isthmus, uterus dan vagina.

Ovarium : Alat reproduksi ayam betina yang menghasilkan ovum (yolk/kuning telur).

Oviposition : Peristiwa keluarnya telur dari kloaka (lay of point) karena pengaruh hormon oksitosin.

Ovulasi : Peristiwa keluarnya (yolk) dari folikel setelah robeknya pada bagian stigma oleh karena pengaruh luteinizing hormon, kemudian ovum ditangkap oleh mulut infundibulum.

Parent stock (PS) : Jenis ayam yang khusus dipelihara untuk menghasilkan final stock (FS).

Pen mating : Perkawinan dari beberapa betina dengan seekor pejantan, tetapi pejantan digilir pada setiap kandang.

Panting (hiperventilasi termik) : Usaha ayam untuk mengeluarkan panas tubuhnya karena heat loss lebih kecil daripada heat production.

Polyphyletic origin : Teori asal usul ayam berasal dari beberapa persilangan Gallus.

Porphirin : Pigmen yang menyebabkan warna coklat pada kerabang telur.

Poultry / unggas : Nama yang diberikan pada sekelompok hewan kelas Aves yang telah didomestikasi yang mampu memberikan nilai ekonomis dalam bentuk barang atau jasa untuk kesejahteraan manusia serta perkembangbiakannya di bawah pengelolaan manusia.

Poultry science : Ilmu pengetahuan baik prinsip atau praktis tentang unggas serta tentang reproduksi, produksi (budidaya), dan pemasarannya.

Poultry production (produksi ternak unggas) : Usaha menernakkan unggas guna mendapatkan nilai ekonomis yang setinggi-tingginya.

Proctodeum : Muara tempat keluarnya sperma di kloaka.

Pullet : Ayam petelur dara menjelang bertelur (umur 12 - 18 minggu).

Pure breed : Galur murni ayam.

Pterylae : Tempat tumbuhnya bulu pada kulit ayam.

Plumping : Penyerapan air dan mineral saat mulai terbentuknya kerabang tipis yang terjadi di isthmus.

Rate of gain : Laju pertumbuhan dan bobot badan.

Rongga udara (air sac) : kantong udara pada unggas (4 pasang dan satu tunggal) yang membantu proses pernafasan.

SAPRONAK : Sarana Produksi Peternakan, misalnya tempat pakan, egg tray.

Sekum (usus buntu) : Sepasang saluran pencernaan tempat mencerna serat kasar dan absorbsi air.

Squab : anak burung merpati.

Shank : Kaki ayam dari tarsometatarsus sampai jari.

Starter : Periode pemeliharaan ayam umur satu hari sampai umur tiga minggu (pada broiler) atau sampai umur enam minggu (pada ayam petelur).

Sex linkage inheritance : Gen yang terkait pada salah satu kromosom dari seks kromosom sehingga menghasilkan sifat seperti induknya pada anak yang jantan atau fenotif seperti bapaknya terdapat pada anak betinanya.

Strain : Klasifikasi ayam berdasarkan garis keturunan tertentu (breeding) melalui persilangan dari berbagai kelas, bangsa, atau varietas sehingga ayam tersebut mempunyai bentuk, sifat, bangsa, dan tipe produksi tertentu sesuai dengan tujuan produksi, contoh Hy-Line, Golden Commet, dll.

Stud mating : Perkawinan antara seekor ayam jantan dan seekor ayam betina.

Tipe : Standar klasifikasi aya berdasarkan kemampuan ayam menghasilkan produk komersial yang sesuai dengan tujuan pemeliharaan, misalnya ayam tipe petelur, tipe pedaging, dan tipe dwiguna.

Susu tembolok (crop milk) : Gel yang mengandung nutrien berkualitas tinggi, dihasilkan oleh burung merpati yang mengeram sampai menetaskan telur dan meloloh anaknya.

Spermatogenesis : Proses pembentukan sel sperma di tubuli seminiferi (sel Leydig) testis, di bawah kontrol hormon testosteron.

Tulang medular : Tulang pada unggas yang berhubungan langsung dengan rongga udara, tulang ini merupakan sumber kalsium saat pembentukan kerabang telur.

Uropigial : Tulang ekor ayam.

Urodeum : Bagian ureter paling akhir di kloaka tempat keluarnya urine yang akan bercampur dengan feses sehingga dinamakan ekskreta.

Vent : Kloaka tempat oviposition.

Vitelogeni : Proses sintesis asam lemak di hati untuk pembentukan kuning telur, terjadi di bawah kontrol hormon estrogen.

Varietas : Standar klasifikasi ayam berdasarkan warna bulu dan atau bentuk comb dalam satu breed, contoh Single Comb White Leghorn (SCWL).

Yolk (kuning telur) atau ovum : Bagian telur paling dalam yang mengandung lemak, trigliserida, glukosa, mineral, dan karoten.

Zona neutral thermic (ZNT) : Temperatur yang ideal dan nyaman untuk pemeliharaan ayam, yaitu antara 15 - 22 derajat Celcius



Ditulis oleh : Galuh Adi Insani (adioranye)